Teman Jadi Musuh
oleh : Sophia Vio
Aku menginjak kelas 1, aku memiliki banyak
teman namun aku tak begitu peduli dan menghargai mereka. Hingga suatu saat aku
sadar bahwa sahabat itu tidak bisa dibeli dengan uang. Perlahan aku
mulai menghargai dan peduli dengan mereka tetapi sepertinya mereka sudah mulai
menjauhiku dan mulai membenciku. Semangat ku pun hilang hingga suatu hari aku
berteman dengan cowok yang bernama Elva. Dia sangat baik dan ia sangat peduli
serta menghargaiku, sejak aku dekat dengannya semangat itu pun mulai muncul
kembali.
Aku senang saat dia di sampingku, aku
nyaman saat dekat dengannya, aku bisa tertawa lepas dengannya, hanya
dengan dia aku dapat menangis sepuasnya, dan hanya dia yang sangat mengerti aku
selain kedua orang tuaku. Sedih rasanya saat dia marah padaku, senang rasanya
saat dia tersenyum padaku, hariku terasa begitu menyenangkan sejak dia menjadi
sahabatku. Walau begitu masih ada rasa canggung saat kita bercerita karena aku
belum bisa mempercaya seseorang untuk menyimpan rahasiaku.
Hingga suatu hari dia menghinaku,
marah padaku, dan tidak mau bicara padaku. Pada saat itu dunia terasa hampa,
menyedihkan dan begitu sulit. Aku mencoba bertanya kepadanya, namun berulang
kali juga dia menghindari dari semua pertanyaan ku. Lama sekali dia marah padaku, sejak
dia marah padaku aku lebih sering merenungkan apa salahku padanya, dan mencoba
melakukan sesuatu yang bisa membuatku melupakannya untuk selamanya. Saat SMP sekolah kita berbeda,
aku pun jarang bertemu dengannya dan jarang berkomunikasi lewat telpon atau pun
sms.
Sejak saat itu aku berharap aku dapat
menghapus namanya di memoryku dan jika suatu hari nanti aku bertemu dengannya
saat itu aku sudah melupakan masalah kita dan ia juga sudah berubah menjadi
Elva yang baik hati, periang, ramah, sopan, dan pemaaf seperti pertama kali
pertemanan kita berdua.
Waktu telah berlalu, aku sudah dapat
melupakannya
namun aku belum bisa menghapus ingatanku tentang sahabat yang telah
mengkhianatiku. Namun satu harapan yang belum tercapai, yaitu saat bertemu
dengannya suatu hari nanti Elva sudah kembali menjadi sahabatku yang dulu. Tapi
saat pertemuan kami setelah 12 tahun berlalu ia sama sekali belum berubah dan
sepertinya dia masih membenciku.
Aku kira saat aku merasa hidupku ini
makin sulit karna ia tidak ada di sampingku, ternyata hidupku menjadi sulit
karna ia selalu berusaha untuk menjatuhkanku. Sedih rasanya saat mendengar ia
sendiri yang mengatakan itu padaku. Sampai saat ini aku dan Elva adalah musuh
bebuyutan, aku berharap anakku nanti tidak akan memiliki musuh.
SELESAI