Wednesday, September 3, 2014

Teman Jadi Musuh

Teman Jadi Musuh
oleh : Sophia Vio

Aku menginjak kelas 1, aku memiliki banyak teman namun aku tak begitu peduli dan menghargai mereka. Hingga suatu saat aku sadar bahwa sahabat itu tidak bisa dibeli dengan uang. Perlahan aku mulai menghargai dan peduli dengan mereka tetapi sepertinya mereka sudah mulai menjauhiku dan mulai membenciku. Semangat ku pun hilang hingga suatu hari aku berteman dengan cowok yang bernama Elva. Dia sangat baik dan ia sangat peduli serta menghargaiku, sejak aku dekat dengannya semangat itu pun mulai muncul kembali.
Aku senang saat dia di sampingku, aku nyaman saat dekat dengannya, aku bisa tertawa lepas dengannya, hanya dengan dia aku dapat menangis sepuasnya, dan hanya dia yang sangat mengerti aku selain kedua orang tuaku. Sedih rasanya saat dia marah padaku, senang rasanya saat dia tersenyum padaku, hariku terasa begitu menyenangkan sejak dia menjadi sahabatku. Walau begitu masih ada rasa canggung saat kita bercerita karena aku belum bisa mempercaya seseorang untuk menyimpan rahasiaku.
Hingga suatu hari dia menghinaku, marah padaku, dan tidak mau bicara padaku. Pada saat itu dunia terasa hampa, menyedihkan dan begitu sulit. Aku mencoba bertanya kepadanya, namun berulang kali juga dia menghindari dari semua pertanyaan ku. Lama sekali dia marah padaku, sejak dia marah padaku aku lebih sering merenungkan apa salahku padanya, dan mencoba melakukan sesuatu yang bisa membuatku melupakannya untuk selamanya. Saat SMP sekolah kita berbeda, aku pun jarang bertemu dengannya dan jarang berkomunikasi lewat telpon atau pun sms.
Sejak saat itu aku berharap aku dapat menghapus namanya di memoryku dan jika suatu hari nanti aku bertemu dengannya saat itu aku sudah melupakan masalah kita dan ia juga sudah berubah menjadi Elva yang baik hati, periang, ramah, sopan, dan pemaaf seperti pertama kali pertemanan kita berdua.
Waktu telah berlalu, aku sudah dapat melupakannya namun aku belum bisa menghapus ingatanku tentang sahabat yang telah mengkhianatiku. Namun satu harapan yang belum tercapai, yaitu saat bertemu dengannya suatu hari nanti Elva sudah kembali menjadi sahabatku yang dulu. Tapi saat pertemuan kami setelah 12 tahun berlalu ia sama sekali belum berubah dan sepertinya dia masih membenciku.
Aku kira saat aku merasa hidupku ini makin sulit karna ia tidak ada di sampingku, ternyata hidupku menjadi sulit karna ia selalu berusaha untuk menjatuhkanku. Sedih rasanya saat mendengar ia sendiri yang mengatakan itu padaku. Sampai saat ini aku dan Elva adalah musuh bebuyutan, aku berharap anakku nanti tidak akan memiliki musuh.


SELESAI