AKU DAN DIA #3
~Pergilah jika kau
lelah dan bertahanlah jika kau ingin~
Hari
demi hari berlalu, sejak aku dan dia
mulai saling menjauh satu sama lain. Sejak aku dan dia mulai saling tak ingin
bertatap muka satu sama lain. Sejak aku dan dia mulai saling melukai dan
terluka satu sama lain. Pertemuan indah kami berdua, kini hanya tinggal sebuah
kenangan. Memori kebersamaan kami kini tinggalah sebuah rindu belaka.
Tak
terasa satu bulan telah berlalu, hubungan kami dari hari ke hari semakin retak
saja. Perlahan namun pasti, rasa cinta kami mulai lenyap, digerogoti oleh rasa
cemburu dan ego kami yang tak ada habisnya. Ingatanku akannya juga perlahan
mulai menghilang, tertutup dengan semua memori indah akan cinta dan kasih sayang
yang kudapatkan dari cowok lain yang merupakan sahabatku sendiri dari kelas 7
sekaligus temannya ketika SD dulu.
Kebersamaanku
bersama sahabatku itu selalu mampu buatku tertawa dan tersenyum. Hanya bersama
sahabatku itu aku mampu ‘tuk berhenti memikirkannya. Luka di hatiku perlahan lahan
mulai menutup. Dan semua rasa rindu dan hausku akan cinta dan kasih sayang
mulai terobati karena sahabatku itu. Selama hampir dua bulan, hidupku berjalan
seperti biasa yang selalu diisi dengan canda dan tawa bersama sahabatku. Aku masih bisa tersenyum, meski hatiku baru
saja terluka.
Memasuki
bulan ketiga sejak tak ada lagi kata kita, aku mulai merasakan ada perubahan
yang terjadi pada dirinya. Dia mulai menjadi seorang lelaki yang aku harapkan,
sesuai dengan tipe idealku. Dia yang dulunya adalah pribadi yang cuek, jarang
tersenyum dan terkadang kasar, kini telah berbeda. Dia yang sekarang adalah
seorang lelaki yang jauh lebih hangat, bersahabat dan lembut. Tak ada lagi
tatapan dingin di matanya. Yang ada sekarang adalah tatapan yang penuh dengan
kedamaian. Sungguh bahagia rasanya, bisa melihat segala perubahan yang ada
padanya.
Namun
kenapa dia harus berubah disaat aku ingin pergi darinya. Tak bisakah dia tetap
menjadi dirinya yang dulu, agar jauh lebih mudah bagiku untuk pergi dari
hidupnya. Semua hal yang telah terkubur dalam dalam kini telah bangkit. Rasa
cinta yang telah lenyap itu, kini kembali tumbuh. Luka yang telah tertutup itu,
kini telah siap untuk terbuka lagi. Dan ingatan akannya di masa lampau telah
tergantikan dengan semua kenangan baru yang coba dia ukir di dalam pikiranku.
Perubahannya
itu terkadang membuatku merasa bahwa dia adalah orang asing. Dia bukan lagi
orang yang pernah aku cintai dulu. Dia juga bukanlah orang yang pernah
melukaiku di masa lampau. Namun entah kenapa, aku merasa sangat mengenal orang
asing itu. Karena orang asing itu selalu berusaha mencari celah untuk kembali
masuk ke dalam kehidupanku lagi. Dengan dirinya yang sekarang, perlahan lahan
dia kembali menemukan celah itu. Celah yang dari hari ke hari membuatku merasa rindu
dengannya. Akankah nantinya, dia akan menjadi orang yang aku cintai lagi?
Akankah nantinya, untuk kedua kalinya dia akan menjadi orang yang melukaiku
lagi? Lalu akankah masih ada kata kita di masa mendatang?
Kini,
terkadang aku merasa rindu padanya. Namun terkadang pula aku masih sering
merasa bahwa tak seharusnya perasaan ini kembali lagi. Sahabatku yang telah
bersusah payah untuk mendapatkan tempat dihatiku dan membangunkanku dari
imajinasiku belaka bahwa aku akan bisa memilikinya hingga nafas terakhirku,
hanya akan terusir kembali jika pada akhirnya aku kembali mencintainya. Dengan
begitu lembutnya, dia membuatku terbang begitu tinggi melihat betapa indahnya
jika aku bisa menjadi satu satunya wanita yang memiliki tubuh, jiwa, dan
hatinya. Namun kelembutan itu pula, yang membuatku ragu. Akankah dia yang
sekarang sungguh sungguh ingin berada di sampingku. Jika dia lelah, kuharap dia
segera pergi dari hidupku. Namun jika ia ingin tinggal lagi di sisiku, kumohon
tetaplah di sampingku hingga akhir nafasku nanti.
Bersambung...