Thursday, November 20, 2014

All About Us

AKU DAN DIA #2
-Tak ada lagi kata kita-

                Kisah cintaku dan dia terus berlanjut. Cerita yang awalnya hanya sebuah pertemuan kini telah berganti. Pertemuan itu telah berubah dengan saling mengisi satu sama lain. Meski badai selalu berusaha memisahkan aku dan dia, tetapi entah kenapa kita selalu bisa bertahan dengan perasaan cinta yang terus tumbuh.
                Melihat dia tertawa dan tersenyum membuatku ikut tertawa dan tersenyum jua. Melihat dia merasa bahagia karena menang membuatku serasa juga memenangkannya. Saat dia terjatuh, itu pula yang kurasakan. Namun tak satupun tanganku yang bersedia untuk kuulurkan padanya, karena kutahu dia mampu bangkit dengan sendirinya. Hanya sebuah iringan doa dan air mata yang bisa kuberikan padanya. Memohon kepada Tuhan agar dia tak apa dan dia mampu bangkit kembali melanjutkan pertandingan yang telah ia mulai bersama yang lainnya.
                Hari hari itu terasa menyenangkan. Bisa tertawa, tersenyum, menangis, kecewa dan cemburu dengan bebas di hadapannya. Meski terkadang masih ada rasa takut untuk menunjukkan semua luka yang kurasakan padanya. Tapi hidupku saat itu jauh lebih berwarna daripada hari hari yang lainnya. Rasanya dia begitu dekat denganku, bahkan bisa kubilang aku telah memilikinya saat itu. Namun apa daya, faktanya kami belum memiliki ikatan apapun bahkan sahabat sekalipun.
                Hari hari itu berjalan jauh lebih cepat. Dan tiba saatnya dimana aku harus melepasnya pergi. Iya sih, aku tahu, dia hanya pergi untuk satu minggu itu pun hanya keluar provinsi. Hmm.., saat hari keberangkatnya aku datang untuk melepaskan keberangkatannya. Walau aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan numpang lewat di depannya itu sudah cukup untuk melepaskan sedikit rindu yang akan kurasakan selama dia pergi nanti. Apalagi setelah hari keberangkatannya itu adalah liburan kenaikan kelas. Yahh..., jadi makin lama deh gak ketemu dia.
                Yang pasti hari dimana aku harus masuk sekolah lagi adalah hari yang paling kutunggu tunggu. Selain bisa melepas rindu dengannya aku juga bisa bertemu dengan semua sobatku. Dan hari itu adalah sehari sebelum ulang tahunku. Yey! Meski aku tahu dia tak akan memberikan hadiah ataupun ucapan apapun padaku, setidaknya bertemu dia sudah cukup membahagiakan untukku. Dan beruntungnya lagi, saat aku baru datang aku telah bertemu dengannya di depan gerbang. Beruntung banget ya kan? Hehe, so aku gak perlu tuh yang namanya muter satu sekolah Cuma untuk bertemu dia, wkwk. Well, hari itu adalah pembagian kelas 9. Walau paginya aku cukup beruntung telah bertemu dengannya, namun ternyata keberuntunganku selanjutnya telah dicuri orang. Dia gak sekelas sama aku, malahan dia satu kelas dengan sahabatku yang juga adalah musuh berbuyutannya. Tak apalah, dengan adanya sahabatku yang satu kelas dengannya aku jadi bisa selalu melihatnya tanpa harus modus modus gak jelas. Setidaknya dengan begitu, aku tak akan terlalu mencemaskannya.
                Satu bulan setelah kita berdua menginjak kelas 9, hubungan kami perlahan lahan mulai retak. Secara tak sengaja aku mungkin telah melukai hatinya. Hari itu aku berduaan dengan seorang cowok yang sebenarnya adalah sahabatku sendiri, tertawa, ngobrol, membaca buku yang sama, tersenyum dan bercanda dengan sahabatku itu. Namun saat aku  bersama dia, aku dan dia hanya bisa terdiam, menyapanya pun aku tak sanggup. Lalu sejak saat itu aku dan dia sama sama terdiam, dia memutuskan semua contact denganku. Tiba tiba beberapa hari setelahnya aku mendapat kabar bahwa dia telah memutuskan untuk jadian dengan seorang wanita yang ternyata adalah adik kelasku. Aku pun hanya bisa tersenyum dan menjawab semua pertanyaan mereka, bahwa aku sudah tidak menyukai nya lagi. Meski ku tau itu adalah sebuah dusta belaka.
Berulang kali ku coba untuk tetap terseyum dan tertawa di depannya, namun berulang kali pula semua senyum dan tawa itu berhenti seketika saat ku berpapasan dengannya bahkan saat aku tak sengaja secara sekilas melihatnya. Lari, lari dan lari, hanya itu yang muncul di benakku saat ku bertemu dengannya. Aku hanya ingin lari sejauh mungkin dari semua kenyataan yang penuh dusta ini. Karena di matanya,hanya dusta dan dusta yang mampu kulihat. Aku hanya ingin lari dari kenyataan, bahwa aku hanyalah wanita lemah yang tak mampu menerima semua takdir yang telah Tuhan gariskan untukku. Berulang kali pula aku berusaha untuk tetap tegar dan tak memperdulikannya, namun berulang kali pula aku semakin tak sanggup untuk menatap matanya.
Setiap ku bertemu dengannya, hanya itu yang selalu kulakukan. Berhenti tersenyum dan tertawa, membuang muka, dan lari. Tak ada satupun senyum yang mampu kuperlihatkan padanya, bahwa aku baik baik saja. Sampai suatu ketika,  aku merasa ada hawa aneh di sekitarnya. Ada sebuah perasaan marah dan kesal yang coba dia sampaikan padaku lewat cara dia lewat dan bersikap saat di depanku. Dia membuang muka, saat berpapasan denganku. Bahkan saat dia tau ada aku di sana, dia dengan senang hati berusaha tidak melihat ke arahku walau hanya sekilas. Sakit, iya sakit. Bahkan jauh lebih sakit daripada saat aku mendengar kabar buruk beberapa hari yang lalu.
Akhirnya aku pun memutuskan untuk move on darinya. Bukan berarti aku tak mencintainya lagi. Tapi aku hanya melupakan dan melepaskannya. Melupakan bukan berarti tak mencintainya lagi, tapi hanya sekadar tak memikirkannya lagi. Melepaskan bukan berarti harus melupakan semua kenangan tentang aku dan dia. Bagiku dia tetaplah orang yang berharga. Aku hanya berusaha untuk tidak memikirkannya meskipun aku merindukannya sekalipun. Dan aku hanya mencoba untuk melepaskan dia, agar dia bisa bahagia dengan caranya sendiri tanpa harus merasa terikat olehku. Aku mencintainya dengan caraku melepaskannya, dan aku melepaskannya dengan caranya mencintaiku. Jika dia memang mencintaiku, meskipun ia telah kubebaskan dia akan berusaha untuk terikat kembali padaku.

Bersambung .... 

No comments:

Post a Comment