AKU DAN DIA #2
-Tak ada lagi kata kita-
Kisah
cintaku dan dia terus berlanjut. Cerita yang awalnya hanya sebuah pertemuan
kini telah berganti. Pertemuan itu telah berubah dengan saling mengisi satu
sama lain. Meski badai selalu berusaha memisahkan aku dan dia, tetapi entah
kenapa kita selalu bisa bertahan dengan perasaan cinta yang terus tumbuh.
Melihat
dia tertawa dan tersenyum membuatku ikut tertawa dan tersenyum jua. Melihat dia
merasa bahagia karena menang membuatku serasa juga memenangkannya. Saat dia
terjatuh, itu pula yang kurasakan. Namun tak satupun tanganku yang bersedia
untuk kuulurkan padanya, karena kutahu dia mampu bangkit dengan sendirinya.
Hanya sebuah iringan doa dan air mata yang bisa kuberikan padanya. Memohon
kepada Tuhan agar dia tak apa dan dia mampu bangkit kembali melanjutkan
pertandingan yang telah ia mulai bersama yang lainnya.
Hari
hari itu terasa menyenangkan. Bisa tertawa, tersenyum, menangis, kecewa dan
cemburu dengan bebas di hadapannya. Meski terkadang masih ada rasa takut untuk
menunjukkan semua luka yang kurasakan padanya. Tapi hidupku saat itu jauh lebih
berwarna daripada hari hari yang lainnya. Rasanya dia begitu dekat denganku,
bahkan bisa kubilang aku telah memilikinya saat itu. Namun apa daya, faktanya
kami belum memiliki ikatan apapun bahkan sahabat sekalipun.
Hari hari
itu berjalan jauh lebih cepat. Dan tiba saatnya dimana aku harus melepasnya
pergi. Iya sih, aku tahu, dia hanya pergi untuk satu minggu itu pun hanya
keluar provinsi. Hmm.., saat hari keberangkatnya aku datang untuk melepaskan
keberangkatannya. Walau aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan numpang lewat
di depannya itu sudah cukup untuk melepaskan sedikit rindu yang akan kurasakan
selama dia pergi nanti. Apalagi setelah hari keberangkatannya itu adalah
liburan kenaikan kelas. Yahh..., jadi makin lama deh gak ketemu dia.
Yang
pasti hari dimana aku harus masuk sekolah lagi adalah hari yang paling kutunggu
tunggu. Selain bisa melepas rindu dengannya aku juga bisa bertemu dengan semua
sobatku. Dan hari itu adalah sehari sebelum ulang tahunku. Yey! Meski aku tahu
dia tak akan memberikan hadiah ataupun ucapan apapun padaku, setidaknya bertemu
dia sudah cukup membahagiakan untukku. Dan beruntungnya lagi, saat aku baru datang
aku telah bertemu dengannya di depan gerbang. Beruntung banget ya kan? Hehe, so
aku gak perlu tuh yang namanya muter satu sekolah Cuma untuk bertemu dia, wkwk.
Well, hari itu adalah pembagian kelas 9. Walau paginya aku cukup beruntung
telah bertemu dengannya, namun ternyata keberuntunganku selanjutnya telah
dicuri orang. Dia gak sekelas sama aku, malahan dia satu kelas dengan sahabatku
yang juga adalah musuh berbuyutannya. Tak apalah, dengan adanya sahabatku yang
satu kelas dengannya aku jadi bisa selalu melihatnya tanpa harus modus modus
gak jelas. Setidaknya dengan begitu, aku tak akan terlalu mencemaskannya.
Satu
bulan setelah kita berdua menginjak kelas 9, hubungan kami perlahan lahan mulai
retak. Secara tak sengaja aku mungkin telah melukai hatinya. Hari itu aku
berduaan dengan seorang cowok yang sebenarnya adalah sahabatku sendiri,
tertawa, ngobrol, membaca buku yang sama, tersenyum dan bercanda dengan sahabatku
itu. Namun saat aku bersama dia, aku dan
dia hanya bisa terdiam, menyapanya pun aku tak sanggup. Lalu sejak saat itu aku
dan dia sama sama terdiam, dia memutuskan semua contact denganku. Tiba tiba
beberapa hari setelahnya aku mendapat kabar bahwa dia telah memutuskan untuk
jadian dengan seorang wanita yang ternyata adalah adik kelasku. Aku pun hanya
bisa tersenyum dan menjawab semua pertanyaan mereka, bahwa aku sudah tidak
menyukai nya lagi. Meski ku tau itu adalah sebuah dusta belaka.
Berulang kali ku coba untuk tetap
terseyum dan tertawa di depannya, namun berulang kali pula semua senyum dan
tawa itu berhenti seketika saat ku berpapasan dengannya bahkan saat aku tak
sengaja secara sekilas melihatnya. Lari, lari dan lari, hanya itu yang muncul
di benakku saat ku bertemu dengannya. Aku hanya ingin lari sejauh mungkin dari
semua kenyataan yang penuh dusta ini. Karena di matanya,hanya dusta dan dusta
yang mampu kulihat. Aku hanya ingin lari dari kenyataan, bahwa aku hanyalah
wanita lemah yang tak mampu menerima semua takdir yang telah Tuhan gariskan
untukku. Berulang kali pula aku berusaha untuk tetap tegar dan tak
memperdulikannya, namun berulang kali pula aku semakin tak sanggup untuk
menatap matanya.
Setiap ku bertemu dengannya,
hanya itu yang selalu kulakukan. Berhenti tersenyum dan tertawa, membuang muka,
dan lari. Tak ada satupun senyum yang mampu kuperlihatkan padanya, bahwa aku
baik baik saja. Sampai suatu ketika, aku
merasa ada hawa aneh di sekitarnya. Ada sebuah perasaan marah dan kesal yang coba
dia sampaikan padaku lewat cara dia lewat dan bersikap saat di depanku. Dia
membuang muka, saat berpapasan denganku. Bahkan saat dia tau ada aku di sana,
dia dengan senang hati berusaha tidak melihat ke arahku walau hanya sekilas.
Sakit, iya sakit. Bahkan jauh lebih sakit daripada saat aku mendengar kabar
buruk beberapa hari yang lalu.
Akhirnya aku pun memutuskan untuk
move on darinya. Bukan berarti aku tak mencintainya lagi. Tapi aku hanya
melupakan dan melepaskannya. Melupakan bukan berarti tak mencintainya lagi,
tapi hanya sekadar tak memikirkannya lagi. Melepaskan bukan berarti harus
melupakan semua kenangan tentang aku dan dia. Bagiku dia tetaplah orang yang
berharga. Aku hanya berusaha untuk tidak memikirkannya meskipun aku
merindukannya sekalipun. Dan aku hanya mencoba untuk melepaskan dia, agar dia
bisa bahagia dengan caranya sendiri tanpa harus merasa terikat olehku. Aku
mencintainya dengan caraku melepaskannya, dan aku melepaskannya dengan caranya
mencintaiku. Jika dia memang mencintaiku, meskipun ia telah kubebaskan dia akan
berusaha untuk terikat kembali padaku.
Bersambung
....
No comments:
Post a Comment